Sunday, December 11, 2011

Inilah 4 Hewan Yang Sebaiknya Dijauhi Ibu Hamil

detail berita SEMASA kehamilan, bumil memang perlu menjaga kehamilannya dengan baik. Salah satunya adalah mencegah untuk tidak tertular parasit dari hewan. Kalau tidak hati-hati, bisa saja parasit tersebut masuk ke dalam tubuh bumil dan membahayakan dirinya serta janin dalam kandungan. Hewan apa saja yang bisa memberi infeksi pada Ibu hamil dan calon bayinya?

Masa Rawan Kehamilan

Menurut dr. Prima Progestian, SpOG, beberapa hewan memang ada yang membahayakan Ibu hamil, ada pula yang tidak. Semua itu bergantung dari seberapa dekat bumil melakukan kontak dengan hewan tersebut.

“Misal, kalau bumil senang memeluk, mencium bahkan tidur bareng dengan hewan tersebut, ini mungkin bisa membahayakannya. Terlebih bila hewan itu tidak bersih, sebut saja kucing kampung yang liar,” ungkap Dokter spesialis kandungan yang berpraktik di Brawijaya Women & Children Hospital ini.

Dikatakannya, masa usia kehamilan adalah masa rawan bumil untuk terkontaminasi bakteri, termasuk yang ditimbulkan oleh hewan. Utamanya pada trimester pertama kehamilan – mulai awal kehamilan hingga 12 minggu. Pasalnya saat itu adalah masa-masa pembentukan organ (organogenesis) pada janin seperti otak, telinga, alat gerak, dan sebagainya.

“Oleh karenanya, pada masa kehamilan tersebut, Ibu hamil sebaiknya menghindari bersentuhan langsung atau tidak langsung dengan hewan yang berisiko membawa penyakit,” anjurnya.



Hewan dan Penyakitnya

Hewan peliharaan yang berisiko membawa penyakit bagi Ibu hamil antara lain:


1. Kucing

Umumnya parasit yang ditimbulkan pada kucing adalah toksoplasma. Siklus hidup parasit ini biasa terdapat pada kotoran kucing. Bila bumil telah terinfeksi tokso pada trimester awal dan akhir maka dapat membahayakan keselamatan dan perkembangan janin di dalam kandungan. Dampaknya janin berisiko keguguran, hamil anggur, mengakibatkan kematian pada bayi, atau bahkan bayi lahir namun dengan kondisi kepala yang besar seperti Hydrocephalus.

Sebagian besar wanita yang menderita toksoplasma, tidak merasakan adanya gejala. Hanya sebagian kecil saja yang merasakan gejalanya, seperti sedikit nyeri otot, pembesaran getah bening dan flek saat hamil.

Untuk mengetahui adanya tokso di dalam tubuh, sebaiknya sebelum menikah atau sebelum merencanakan program hamil dilakukan pemeriksaan TORCH (toxoplasma, rubella, cytomegalovirus dan herpes) terlebih dulu guna mengetahui apakah wanita tersebut sudah memiliki antibodi dengan toksoplasma, rubella, cytomegalovirus dan herpes. Jika sudah terdapat antibodi di dalam tubuhnya maka tidak perlu khawatir dengan kondisi kucing peliharaannya.

“Kondisi yang paling membahayakan justru apabila sebelum hamil belum terinfeksi tokso, lalu saat hamil baru terinfeksi tokso,” ujar dr. Prima.

Apabila terjadi serokonversi – perubahan dari negatif menjadi positif - maka semasa kehamilan diperlukan pemeriksaan USG guna memantau apakah ada kecacatan pada janinnya.

Selanjutnya, perlu dilakukan pengobatan bila bumil sudah terlanjur terinfeksi tokso, yaitu denganspiramycin (obat antibiotik) sepanjang kehamilannya. Diharapkan bakteri toksoplasma tersebut akan hilang. Meskipun begitu, kemungkinan terjadinya kelainan pada janin masih bisa terjadi.

“Kerusakan pada janin itu bergantung seberapa parah si bumil terinfeksi toksoplasmanya, tapi biasanya kerusakan yang terjadi berkisar 2 – 4 persen,” akunya.

2. Hamster

LCMV (Lymphocytic Choriomenigitis Virus) atau Viral Meningitis adalah virus yang terdapat pada hewan-hewan pengerat seperti tikus dan hamster.

Tanda-tanda awal jika terserang virus ini adalah demam, mual, muntah-muntah, sakit pada otot dan kepala serta sakit pada kelenjar-kelenjar tubuh.

LCMV ini merupakan satu-satunya virus yang dapat menembus dinding plasenta dalam rahim. Bila janin terinfeksi virus ini biasanya lahir dalam keadaan cacat atau bahkan meninggal. Cara penularan dari virus ini adalah dengan menyentuh air kencing, mata atau mulut hewan yang terinfeksi virus ini.

Jangan khawatir, satu atau dua ekor hamster di dalam rumah yang terawat kebersihannya tidak akan membahayakan bumil. Tapi hamster peliharaan dapat pula terinfeksi LCMV setelah kontak dengan tikus liar di fasilitas pembibitan, toko hewan peliharaan atau rumah.

Lebih berhati-hatilah pada saat musim hujan atau banjir. Saat itu penyakit ini bisa mengancam karena tikus-tikus liar biasanya bermunculan di sekitar rumah.
Jika bumil terkena virus LCMV ini sebaiknya segera konsultasikan kepada dokter kandungan agar segera diberi suntikan antibiotik.

3. Anjing
Anjing tergolong hewan yang tidak terlalu membahayakan bagi bumil. Hanya saja bila tidak terjaga kebersihannya, bakteri kutu yang terdapat pada bulu-bulu anjing bisa menimbulkan penyakit kulit pada manusia, termasuk bumil.

Jenis penyakit kulit yang ditimbulkan oleh kutu anjing biasanya adalah jamur sehingga menimbulkan gatal-gatal pada bumil namun tidak akan berdampak buruk bagi janinnya. Untuk mengatasi rasa gatal tersebut konsultasikan kepada dokter kulit.

Selain itu anjing juga bisa membawa penyakit rabies. Jadi, pastikan anjing peliharaan Anda untuk mendapatkan suntikan vaksin rabies.

4. Unggas

Hewan yang termasuk dalam jenis golongan ini adalah ayam dan bebek. Hewan ini juga berpotensi membahayakan bumil utamanya jika terjangkit flu burung.
Untuk menghindari hal tersebut, langkah yang bisa dilakukan adalah memberikan vaksin flu burung pada seluruh hewan unggas.

Juga, sebaiknya kandang atau tempat tinggal ayam atau bebek jangan dibuat berdampingan dengan tempat tinggal bumil.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment